Wafatnya Politisi Tua (Cerpen)

Oleh Hafis Azhari

Seusai menandatangani kontrak terakhir dengan seorang pengusaha Cina, Haji Husen Hafidudin menghempaskan badannya yang kurus di kursi sofa. Transaksi kali ini cukup tinggi nilainya, hingga membuatnya tersenyum merekah. Beberapa hari lalu ia pun merasa beruntung telah menjual persediaan besi-besi tua kepada perusahaan logistik dengan keuntungan berlipat-lipat. Kini ia merasa selamat dari dugaan-dugaan negatif akibat krisis moneter berkepanjangan yang menggelisahkan dirinya. Ia pun sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa di tahun depan ia akan bertarung kembali dalam persaingan politik untuk menduduki kursi DPR Pusat.
Namun yang menjadi persoalannya adalah kesehatan yang belum pulih untuk bersaing secara terbuka, hingga terkadang merasa kesal dan mengutuk dirinya sendiri: “Buat apa kekayaan dan kedudukan tinggi di kursi politik, sementara kesehatanku hancur dan hidupku menderita seperti ini.”
Memang yang masih tersisa pada Haji Husen di usinya yang menginjak 65-an adalah tubuhnya yang kurus dan kerempeng. Tapi yang tidak kalah gawat adalah saraf otaknya yang seakan sudah menjanjikan kematian. Bila ia sedang duduk-duduk menyendiri di serambi rumahnya, terus-menerus ia dihantui oleh pikiran-pikiran tentang mati. Ya, persoalan mati itulah yang begitu banyak menyita waktunya sehari-hari. Suara mobil sirine yang terdengar dari kejauhan pun membuat otot-ototnya menegang dan jantungnya berdebar-debar.

Banjir Di Masjid Banten (Cerpen)

Oleh Hafis Azhari

Aku tak pernah melihat perpaduan mata dan alis yang sebegitu menarik seperti milik Fauziyah. Matanya yang indah memancar bagaikan pelangi sore di ufuk timur. Bulu matanya yang lentik memang bukan polesan kosmetik Amerika, hingga selalu mengiringi sorot matanya yang tajam, sekaligus menyimpan kelembutan hati seorang ibu yang sedang menyusui anaknya. Aku membayangkan puting susunya yang ranum dan segar, sedang dihisap oleh anaknya yang baru menginjak satu tahun.

          Suasana banjir di sekitar mesjid Banten membuat Fauziyah terpaksa menitipkan anak satu-satunya kepada sang ibu. Ia segera mengenakan seragam Gema Nusa Banten, suatu organisasi yang bergerak di  bidang sosial dan kemasyarakatan. Setelah berpamitan dengan ibunya ia pun bergabung bersama teman-teman LSM lainnya. Tak terkecuali aku yang satu rombongan dengannya, meski aku banyak berkiprah di bidang kebudayaan dan penulisan sastra.
          Beberapa setel baju pengganti ditumpuk di atas peralatan-peralatan medis yang dibawanya dalam sebuah tas rangsel. Rambutnya yang indah terurai, dibiarkannya terjepit oleh rangsel yang menggantung di punggungnya. Satuan mobil palang merah sudah mendahului kami menuju alun-alun Rangkasbitung, di mana posko-posko sudah didirikan untuk menampung para korban banjir. Kini giliran rombongan kami yang berjumlah delapan orang, dan siap meluncur menuju mesjid Banten untuk membantu korban-korban di wilayah itu.

Masjid Di Kampung Jombang (Cerpen)

Cerpen Hafis Azhari
 
Tanggul-tanggul yang membatasi aliran sungai ke perkampungan dibiarkan keropos selama puluhan tahun. Pada musim hujan tahun ini, perairan untuk irigasi pesawahan pun rusak, karena pemerintah daerah lebih mengutamakan alokasi dana untuk perhotelan dan tempat-tempat pariwisata.  Demikian halnya dengan Lurah Herman yang tidak mempedulikan jalan-jalan berlubang, bahkan jembatan yang menghubungkan Kampung Jombang dengan Desa Kalitimbang dibiarkan doyong dan tak terawat.
Padahal di sekitar kampung itulah hilir-mudik beragam kehidupan masyarakat, serta padatnya jumlah penduduk, baik yang pribumi maupun non-pribumi. Dari kejauhan nampak rumah tua yang dihuni oleh beberapa wanita tunasusila dari daerah Indramayu, di sebelahnya sebuah warung kopi, kedai cukur dan warung nasi uduk yang tiap pagi dikunjungi para pelanggan dari kalangan pelajar, pegawai pabrik, bahkan ibu-ibu pengajian yang tiap Jumat mengikuti ceramah Ustad Basri di mesjid Al-Mubarok, yang letaknya di dataran tinggi sebelah timur Jombang.
Sekitar pukul sembilan malam, Sinta seorang wanita tunasusila seperti biasa melintasi jembatan reot itu menuju warung remang-remang yang terletak di sebelah barat Kampung Jombang. Pada pagi hari jembatan itu dilintasi pula oleh anak-anak pelajar, para pegawai negeri hingga para pedagang yang menuju pasar kelapa di Kota Cilegon.
Baca selengkapnya klik disini.

Kuli Tinta (Cerpen)

Cerpen Hafis Azhari
”Kita hadapi saja apa yang akan terjadi.”
“Tapi Mas dibayar berapa dengan melakukan perlawanan seperti itu?”
“Ini bukan perkara uang, Ris, tapi perkara mental kita, kekuatan kita untuk menghadapi problem hidup.”
“Alaah taik kucing! Persoalan apa yang tak bisa diselesaikan dengan uang, Mas?”
Untuk ke sekian kalinya Rista mengeluh dan menggerutu di hadapan Somad suaminya. Sebagai pemuda yang berkiprah di dunia kewartawanan, Somad memegang prinsip-prinsip yang berseberangan dengan istrinya dalam beberapa hal. Misalnya dalam soal kesederhanaan dan hidup bersahaja. Menurut Somad, pantang baginya untuk bersaing dalam hal-hal yang bersifat kebendaan. Ia berusaha untuk kukuh memegang prinsip-prinsip jatidirinya sebagai wartawan, apapun konsekuensi yang akan dihadapi di kemudian hari.
Kali ini ia harus berurusan dengan aparat-aparat perusahaan Stone Engeneering yang merupakan anak cabang dari PT. Krakatau Stone. Pasalnya adalah hasil reportase yang dia buat seminggu lalu di harianBanten Bangkit, yang kemudian banyak menyulut pro-kontra di kalangan masyarakat Cilegon dan karyawan PT. Krakatau Stone. Pembuangan limbah dari perusahaan anak cabang itu telah mengaliri sungai Ciwandan yang dikabarkan sudah melampaui ambang batas. Tetapi pihak perusahaan menampik pemberitaan tersebut, bahkan dua orang securityberjanji akan melaporkan Somad kepada pihak yang berwajib sebelum ia menyatakan permintaan maaf di seluruh koran-koran Banten.
Baca selengkapnya dengan klik disini.

Kampung Abal-abal (Cerpen)

Cerpen Hafis Azhari

Aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya ada di dalam gundukan tanah itu sejak limabelas tahun lalu duduk di kelas tiga SD. Saat itu aku bersama teman sepermainanku, Idrus, melihat adanya warga pendatang di sekitar Kampung Kalitimbang yang menggali sebuah tanah di pinggir sungai, kemudian mengubur sebuah benda misterius sebelum ia menimbunnya dengan tanah galian. Tak berapa lama warga kampungku mempercayai bahwa gundukan tanah itu adalah makam Wali Surip yang konon dalam sejarah hidupnya pernah terbang di atas sejadahnya untuk melaksanakan solat Jumat di Masjidil Haram, Kota Mekah.
Warga pendatang itu kemudian memperkenalkan dirinya dengan nama “Ustad Samin”, di mana setiap malam Jumat menerima berbagai rupa sedekahan dari masyarakat di sekitar kampung kami. Di rumah yang didirikannya di sebelah makam Wali Surip itu ia mengumpulkan rupa-rupa sedekahan dari berbagai macam jenis bungkusan, yang terdiri dari beras, gula, minyak, mie, kopi, rokok, hingga amplop berisi uang sedekahan.
Selama limabelas tahun aku tak pernah berniat untuk mengusik kepercayaan masyarakat di sekitarku, bahkan sewaktu SD aku pernah diajak beberapa kali oleh ibuku untuk mengambil air putih dari sumur yang digali di samping makam Wali Surip, dengan jaminan dari Ustad Samin bahwa air putih itu berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, menangkal bala serta mendatangkan rizki dan barokah.
Selama bertahun-tahun warga Kalitimbang sangat mengagumi kesaktian Ustad Samin, bahkan rela memberikan berbagai rupa sedekahan, dengan harapan mereka mendapat cenderamata dari Ustad Samin berupa batu cincin atau biji tasbih, bahkan sepotong dahan kayu pun sangat diharagai warga Kalitimbang apabila mereka terima langsung dari tangan sang Ustad, yang konon telah dibacakan mantra-mantra sambil berpuasa di atas makam Wali Surip.
Dalam beberapa tahun Ustad Samin semakin mempersolek bangunan rumahnya di samping makam tersebut, hingga suatu ketika ia pun mengajak seorang istri dan dua anaknya untuk ikut-serta tinggal di rumah yang didirikan di bantaran sungai tersebut.
“Kalau anak Ibu sakit panas, kalungkan tasbih ini di lehernya, kemudian minumkan air putih ini setelah makan,” ujar Ustad Samin sambil menyodorkan sebotol air putih kepada seorang warga yang mengeluh karena anaknya sakit.

Filsafat, Sastra dan Kebenaran

Indah Noviariesta – aktivis Gema Nusa, alumni Universitas Tirtayasa, Banten.
 
Bila meneropong karya-karya para pemenang nobel sastra dari zaman ke zaman, kita bisa melihat karakter manusia Barat yang cenderung ekstrim dalam segala hal. Tetapi di samping kaum atheis maupun sekularisme radikal, sastra Barat tidak pernah kering dari jenis-jenis roman, drama dan puisi yang penuh cita-rasa keimanan dan dambaan pada nilai-nilai Ilahiyah yang sejati. Tentu saja kualitas dan cita-rasa keimanan manusia di zaman Nabi Ibrahim memiliki konteks yang berbeda – meski esensinya sama – dengan manusia zaman Einstein sekarang ini.
Pergulatan pemikiran dan religiusitas manusia Barat lebih terdapat pada sikap sang pencari, eksplorator, bagaikan ketelitian dan ketekunan sarjana dalam ruang laboratorium. Mereka bertanya dan bertanya, kemudian menemukan jawaban, meskipun jawabannya itu tak lain dari mata-rantai pertanyaan baru lagi. Sastrawan terkemuka kelahiran Cekoslowakia, Franz Kafka (1883-1924), pernah memberikan garis besar bahwa sosok sang pencari, berkat ketekunan dan kegigihannya, pada waktunya akan sampai pada pertemuan di depan pintu gerbang intimitas Tuhan.
Pandangan religiusitas dari Kierkegaard (filosof Denmark) sangat mempengaruhi alam pemikiran Kafka. Keseriusannya menggeluti filsafat dan sastra membuat kepribadian Kafka dikenal sebagai sastrawan yang berani mengungkap kedalaman psikologis di masa-masa pencarian identitas dirinya. Hingga cenderung menolak segala hal yang bersifat dangkal dan urik belaka. Tapi kemudian, ketika sampai pada puncak pencarian kebenaran tersebut, sikap rendah-hati menjadi keharusan setelah manusia Barat mengalami pahit getir dan asam-garam perjuangan yang mereka tekuni. Sebagian mereka mengakui dengan jujur tentang keterbatasan antara kebebasan sang eksplorator dengan kekuasaan Yang Maha Absolut Yang Tak Terbatas.
Eksplorasi Orang Indonesia
 
Peran filsafat eksistensialisme Barat harus diakui begitu mengurat-mengakar dalam khazanah kesusastraan Indonesia. Bebarapa seniman yang saya kenal, terkadang membuat saya tersenyum setelah membaca karya-karyanya bahwa apa yang ditulisnya itu sebenarnya hanya modifikasi belaka dari karya-karya Albert Camus maupun Sartre, sastrawan dan filosof Prancis yang terkenal dengan ucapannya, “Neraka adalah orang lain!”
Tidak jauh berbeda dengan karya-karya T.S. Elliot yang membongkar karakter manusia hedonis, dengan watak serakah dan korupnya yang kadang tidak malu-malu dipertontonkan, meskipun dia menyadari bahwa eksistensi yang dipertahankan itu kelak akan menjerat dirinya sendiri. Para penulis Eropa, khususnya Prancis, memang tidak pernah kering menghasilkan karya-karya adihulung, sebagai epos ciptaan jiwa manusia modern, yang pada hakikatnya diilhami pula dari para perintis dan pendahulunya, misalnya “Kisah Doktor Faust” karya Wolfgang Goethe.
Kisah Doktor Faust sangat populer di negeri-negeri Barat sejak masa abad pertengahan, dan terus diperbaharui dan dimodifikasi hingga hari ini. Berkisah tentang seorang intelektual dan doktor yang berambisi keras untuk merebut kembali pohon larangan Firdaus yang pernah lepas dari tangan Nabi Adam. Buah terlarang itu dapat pula ditafsirkan sebagai “kunci pengetahuan” tentang kebaikan dan keburukan. Jadi hanya Tuhan yang berdaulat penuh memegang kunci rahasia tersebut. Tetapi karena tabiat dan watak Doktor Faust yang ambisius, serta menyadari kemampuan intelektual manusia yang terbatas, dia merelakan diri untuk menjual jiwanya pada Iblis Mefisto (Raja Jin). Keduanya menyetujui kesepakatan perjanjian, bahwa ketika wafat kelak Doktor Faust akan memasrahkan jiwanya pada Mefisto.
Terserah apapun namanya, bisa Iblis Mefisto, Lucifer, Jin Putih, Jin Islam atau silakan diberi nama yang bagus-bagus semau kita. Dan ketika sampai pada puncak tangga yang kesembilan, Mefisto pun memberikan kunci rahasia sebagai simbol pengetahuan (ilmu gaib) dengan daya teknologi Raja Jin yang dianggapnya hebat itu. Doktor Faust pun mengetahui banyak hal yang tak bisa diketahui orang biasa, bahkan memahami apa yang tak bisa dipahami orang awam. Sang penjual jiwa itu akhirnya dapat berbuat sesuatu mengenai hal-hal yang tak bisa diperbuat orang pada umumnya. Dia pun menjadi kaya-raya, bahkan berkuasa dan ditakuti oleh banyak orang.
Kemudian Doktor Faust tak bisa menghindari umur manusia yang terus berjalan, ruang dan waktu berproses tak mungkin dielakkan, hingga sampailah di usia senjanya yang tua-renta. Dia berusaha untuk mengulur-ulur waktu, bahkan mencoba menghindar dari cengkeraman Raja Jin tersebut. Dia terus mencari akal dan siasat agar dapat keluar dari renggutan Sang Iblis Mefisto. Dia berjuang untuk menentukan nasibnya sendiri, menggapai-gapai cara untuk mencapai rahmat Ilahi, tetapi toh pada akhirnya…
“Kalaupun ada mantra-mantra yang sanggup membuat gunung meletus, sanggup membikin tanah terbelah (gempa bumi), bahkan bisa membuat orang-orang mati bangkit dan bicara kembali, tapi ketahuilah, semuanya itu tak ada yang lepas dari manajemen dan kekuasaan Allah!”
Ayat Quran yang saya kutip dari surat Ar-Ra’du (13:31) ini paralel dan sehaluan dengan kata-kata mutiara yang pernah diucapkan sastrawan Franz Kafka di usia senja dan puncak keletihannya. Terutama saat dia mengakui keterbatasan eksplorasi dan pencarian manusia akan makna kebenaran, “Bukan kita manusia yang sanggup menggapai Tuhan, tetapi Tuhan sendirilah, berkat kasih-sayang-Nya Yang akan meraih kita yang serba terbatas ini.”
Ungkapan bersayap dari sastrawan sekaligus filosof itu meluncur begitu fasih seakan-akan dia pernah membaca Al-Quran dan Al-Hadits. Meskipun dia tidak terlampau mengikatkan diri pada teks harfiyah dari Al-Kitab (agama formal), namun berinti religius dan percaya pada kebaikan abadi. Bahkan Pearl S. Buck dalam novelnya “The Good Earth” secara implisit menggugat ketundukan para penulis Asia pada ideologi Eropa setelah abad pertengahan hingga zaman neokolonialisme ini. “Mengapa mereka begitu mudah menganut ajaran yang didakwahkan oleh para pemikir dan filosof Eropa. Padahal tidak sedikit dari orang-orang seperti kami, para penulis Eropa yang merasakan keterpurukan manusia-manusia Faust sebagai pahlawan dan ksatria menyedihkan, dengan hati dan jiwa-jiwa muram dan gersang.”
Di zaman rasionalisme Eropa, kisah Doktor Faust memang pernah dipuji-puji sebagai lambang manusia progresif yang berani mengambil risiko besar demi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan tata perdagangan yang menjadi demam orang-orang Eropa dan Amerika imperialis. Tetapi di zaman post-industrial ini,transformasi sosial kian mengglobal, dan manusia modern semakin membuka mata-hatinya untuk menyadari kekhilafan masalalunya.
“Tidak semua yang terjangkau oleh kekuatan otak dan keinginan hawa nafsu manusia, boleh dilakukan sekehendak hatinya,” demikian peringatan Albert Einstein untuk manusia hiper modern saat ini. Dalam drama Paul Claudel (Prancis) yang berkisah tentang orang-orang Spanyol yang mewarisi kebudayaan Arab di akhir abad ke-16 lalu, disampaikan pula kesimpulan bahwa perjuangan manusia untuk mencari kebenaran akan bermuara di puncak keletihannya, hingga pada waktunya ia pun mampu menemukan Tuhannya. Tapi ketahuilah bahwa “perjumpaan” dengan Tuhan itu bukan atas dasar jasa-jasanya sendiri, tetapi karena pemberian, anugerah dan kasih sayang Allah kepada manusia.
Karenanya kita tak perlu sewot dan mencak-mencak ketika disentil oleh novel “Perasaan Orang Banten” bahwa memang beginilah adanya kita, yang harus terus bermuhasabah dan mengevaluasi diri. Sebab seintelek-inteleknya orang Indonesia kerapkali kita tak berdaya menghadapi petuah-petuah leluhur yang sudah kadung “mengongkosi” perjalanan hidup kita. Bagaimanapun kita harus jujur mengakui, karena seringkali manusia terlena pada kedaulatan pribadi hingga mengabaikan hal paling krusial bahwa sehebat-hebatnya rahasia disimpan oleh manusia, tak mungkin dia lepas dari pemantauan dan manajemen Tuhan Yang Maha Melihat. (*)

Konstruksi Imajinasi Bangsa

Hafis Azhari
 
“Seorang penguasa diktator seperti Hitler, Mussolini maupun Jengis Khan, tetap mengakui dirinya tidak berdaulat penuh dalam segala hal. Mereka memiliki kepercayaan adanya hubungan kosmos mikro (dunia fana) dengan kosmos makro (dunia baka) yang dianggap sanggup menjawab ketidakpastian hidup seorang pemimpin.”
 
Alkisah nun di kala itu, delapan abad setelah masa kekuasaan Ken Arok yang dilegitimasi oleh sebuah sastra (puisi) berjudul “Lubdhaka”, terjadilah peristiwa yang terulang kembali di tanah Jawa, dalam kaitannya dengan sastra yang memiliki kekuatan untuk melegitimasi kekuasaan yang korup dan sewenang-wenang.
Kita paparkan di sini sehubungan masih relevannya kisah Pangeran Diponegoro untuk ditarik ke dalam problem politik kekinian dan keindonesiaan. Dimulai dengan tampilnya Sultan Hamengku Buwono V yang menulis Serat Purwakanda (Kakak Sulung) yang sebetulnya tetap merujuk pada sastra Jawa kuno berjudul “Kanda”. Namun Serat Purwakanda menyatakan diri lebih awal dari naskah “Kanda”, bahkan mengkualifikasi diri sebagai “Purwa” seakan-akan lebih asli dan lebih tua dari “Kanda”.
Naskah sastra ini bertema tentang hal ihwal keturunan yang sah, hingga keterangan silsilah dewa-dewi Hindu dan Jawa yang dihubung-hubungkan dengan Nabi Adam (Islam). Dinyatakan bahwa Sang Hyang Tunggal memiliki empat putera mahadewa (Sang Hyang Puguh, Punggung, Manan dan Samba). Yang paling tampan dan baik di antara mereka adalah si bungsu Sang Hyang Samba, yang kelak dipastikan oleh Sang Hyang Tunggal sebagai kepala para dewata di Suwargodimulyo, meskipun tidak disukai oleh kakak-kakaknya yang saling bersengketa.
Dilukiskan bahwa Sang Hyang Puguh dan Punggung terus bersitegang tak mau damai, maka dihempaskanlah keduanya dari permukaan bumi hingga berwajah buruk rupa. Setelah mereka sadar dan minta ampun mereka pun diampuni tetapi tidak boleh masuk ke Suwargodimulyo. Sang Hyang Puguh dijuluki Togog dan diberi tugas untuk menjaga orang-orang Jawa yang berada di luar negeri, sedangkan Punggung dijulukiSemar dan bertugas menjaga orang-orang Jawa di dalam negeri. Kemudian Samba dinobatkan sebagai kepala para dewata, bergelar Bathara Guru didampingi perdana menteri yang setia (Sang Hyang Manan) yang diberi gelar Bathara Narada.
Di sini nampak siasat politik dari Kerajaan Jawa yang dikendalikan Penguasa Hindia Belanda, menghendaki lestarinya sistem kolonialisme sambil menyelenggarakan keamanan dan ketertiban tanah Jawa (Nusantara), memboyong beribu-ribu gulden dari jerih-payah rakyat jelata yang dikerahkan untuk menghasilkan rempah-rempah maupun buah-buah perkebunan.
Serat Purwakanda yang merupakan dokumen gaib – dalam bentuk sastra itu – jelas mengandung unsur legitimasi tahta kerajaan (kosmos mikro) untuk mengidentikkan Hamengku Buwono V sebagai Sang Hyang Samba. Padahal HB V masih berumur dua tahun pada saat ayahnya wafat (HB IV). Pangeran Diponegoro yang memahami konsep keadilan dari ajaran Islam, tidak berkenan dengan keputusan Belanda menobatkan seorang balita berumur dua tahun menjadi Raja Jawa. Sebab konsekuensinya, yang berkuasa selaku eksekutif adalah sang perdana menteri, siapa lagi kalau bukan Patih Danurejo yang sejak dini memihak segelintir elit penguasa dan bersekongkol dengan pihak Belanda.
Lantas, benarkah Serat Purwakanda adalah hasil ciptaan HB V, ataukah di belakang semua itu pihak penjajah (Belanda) yang bermain? Mungkinkah pihak kerajaan mengerahkan para penulis bayaran sebagaimana para penyair Arab yang dibayar pembesar Qurays untuk menyerang konsep kebenaran dan keadilan yang ditegakkan Muhammad? Bukankah untuk mengibarkan bendera kapitalisme di Indonesia, dana jutaan dollar digelontorkan demi berjalannya progres kebudayaan Barat (melalui CIA) di masa Orde Baru, terutama bagi kalangan seniman dan budayawan yang mau mengabdi pada pesan-pesan neo-kolonialisme dan imperialisme (baca: Dokumen CIA, Hasta Mitra, Jakarta 2002).
Serat Puwakanda bukan saja mengoreksi dokumen sastra Jawa kuno (Kanda) tetapi juga memanipulasi tafsiran Ronggowarsito (Serat Paramayoga) dari istana Surakarta. Karya sastra itu ujung-ujungnya menyampaikan pesan dakwah yang dilegitimasi keraton, bahwa Pangeran Diponegoro identik dengan figur Togogyang berburuk rupa. Sedangkan Sang Hyang Samba mengejawantah dalam diri HB V yang diidentikkan dengan wajah tampan dan baik hati. Kemudian pihak Belanda dan Patih Danurejo, tentu saja dikonotasikan sebagai Semar dan Bathara Narada, karena siapa lagi kalau bukan Semar yang bertugas menjaga orang-orang Jawa di dalam negeri.
Pada masa itu dunia politik, sastra dan religiusitas merupakan satu paket, sebagai pelaksanaan prarencana Tuhan ke dalam layar duniawi. Bagi orang-orang berpenghayatan mistis, seluruh semesta ini dapat mewahyukan diri sebagai sakralitas kosmik. Jadi setiap peristiwa dalam kosmos mikro yang fana ini hanyalah pengejawantahan lakon kosmos makro yang mengatasi kehendak rakyat jelata, dan merupakan takdir yang harus diterima dan ditaati oleh mereka.
Menulis Untuk Keabadian
Kisah yang terungap di atas bukanlah semata-mata dongeng fiktif belaka, tetapi dialami langsung oleh seorang figur Pangeran Diponegoro. Dalam kaitan itu pihak keraton dan penjajah Belanda memang telah memenangkan pertempuran, tetapi pada hakekatnya mereka telah kalah dalam peperangan. Karena Tuhan Maha Adil, dan yang abadi dalam benak sejarah dan memori bangsa Indonesia tak lain adalah sosok sang pahlawan nasional kita, Pangeran Diponegoro.
Dalam alam tradisional Jawa, peran rakyat kawula memang hanyalah sekunder belaka, karena yang dianggap primer adalah kedudukan sang penguasa tadi. Jadi citra manusia tradisional – seperti yang tergambar dalam dunia perwayangan – hanyalah kelir jagad cilikyang berfungsi sebagai bayangan yang dianggap tidak sejati, dan karenanya hanya dapat bergerak berkat peran Ki Dalang (jagad gede). Tidak mengherankan apabila segala peristiwa kekuasaan politik didominasi dan diputuskan oleh sang penentu sejati, serta diniscayakan oleh kehendak Sang Dalang belaka.
Tetapi sudilah para jurnalis, intelektual dan budayawan Indonesia, agar kita terus menggalakkan kreasi-kreasi kita bukan semata-mata untuk kepentingan pasar yang sesaat tetapi berkaryalah terus untuk sebuah keabadian. Karenanya jangan sampai lekang oleh waktu dan jangan lapuk ditelan zaman. Sudah waktunya kita bermuhasabah dan bercermin diri, bahwa konsep kekuasaan feodal dalam piramida tatanan hirarkis selama ini memang bertentangan dengan ajaran monotheisme yang berpijak pada nilai-nilai humanitas dan keadilan sosial. Manusia tidak boleh melupakan nasibnya untuk menikmati kehidupan dunia ini, karena pada prinsipnya rasa syukur dan kenikmatan hidup di dunia adalah senyawa dan merupakan cikal-bakal untuk meraih kemenangan di akhirat nanti. (*)
·        Penulis novel “Perasaan Orang Banten” dan“Pikiran Orang Indonesia”.

Banjir di Kampung Jombang (Cerpen)

Oleh Hafis Azhari
Tanggul-tanggul yang membatasi aliran sungai ke perkampungan dibiarkan keropos selama puluhan tahun. Pada musim hujan tahun ini, perairan untuk irigasi pesawahan pun rusak, karena pemerintah daerah lebih mengutamakan alokasi dana untuk perhotelan dan tempat-tempat pariwisata.  Demikian halnya dengan Lurah Herman yang tidak mempedulikan jalan-jalan berlubang, bahkan jembatan yang menghubungkan Kampung Jombang dengan Desa Kalitimbang dibiarkan doyong dan tak terawat.
Padahal di sekitar kampung itulah hilir-mudik beragam kehidupan masyarakat, serta padatnya jumlah penduduk, baik yang pribumi maupun non-pribumi. Dari kejauhan nampak rumah tua yang dihuni oleh beberapa wanita tunasusila dari daerah Indramayu, di sebelahnya sebuah warung kopi, kedai cukur dan warung nasi uduk yang tiap pagi dikunjungi para pelanggan dari kalangan pelajar, pegawai pabrik, bahkan ibu-ibu pengajian yang tiap Jumat mengikuti ceramah Ustad Basri di mesjid Al-Mubarok, yang letaknya di dataran tinggi sebelah timur Jombang.
Sekitar pukul sembilan malam, Sinta seorang wanita tunasusila seperti biasa melintasi jembatan reot itu menuju warung remang-remang yang terletak di sebelah barat Kampung Jombang. Pada pagi hari jembatan itu dilintasi pula oleh anak-anak pelajar, para pegawai negeri hingga para pedagang yang menuju pasar kelapa di Kota Cilegon.
“Suatu saat jembatan itu pasti ambruk, biar para pelacur itu kapok,” umpat Lurah Herman di hadapan istrinya.

Atheisme Sang Humanis

Oleh Fauziyah Nurul (alumni Ponpes Daar El-Qolam, Gintung, Tangerang).
 
Karya-karya sastra yang ditulis oleh generasi kaum rasionalis di Eropa, terutama setelah merebaknya zaman Aufklaerung dan Revolusi Prancis, terang-terangan menggugat moralitas Kristiani yang dibangun dan diprogram oleh dominasi kekuasaan Gereja. Rasionalisme Eropa kala itu disertai pula dengan paham atheisme yang konsekuen dianut oleh kalangan terpelajar dan para ilmuwan. Sejak periode itu bermuncullah genresastra yang terang-terangan “menyerang” agama formal, menyoal ajaran-ajaran yang sudah kadung dianggap keramat oleh setiap penganutnya. Secara historis, jenis sastra semacam itu terus menyebar hingga ke pelosok timur Asia dan Afrika, melalui zaman kolonialisme imperium Barat. Bahkan di Indonesia sendiri dikenal sebuah novel legendaris berjudul “Atheis” hasil karya Achdiat K. Miharja.
Tetapi yang ingin kita bahas di sini adalah pelopor sastra eksistensialisme Barat (atheisme) dari Paris Prancis, Honore de Balzac, yang sejak tahun 1837 meluncurkan cerpen yang sangat terkenal di jagat kesusastraan dunia, “Missa Sang Atheis” (La Messe de l’Athee). Tokoh yang ditampilkan adalah seorang dokter ahli bedah terkenal di Paris bernama Desplain, yang pada suatu pagi tertangkap basah sedang melakukan sembahyang (missa) di sebuah gereja di sekitar Kota Paris, Prancis. Kejadian itu disaksikan langsung oleh asistennya, Horace Bianchon yang kemudian bertanya-tanya selalu, untuk apa gurunya itu melakukan missa di gereja tua itu. Muridnya itu tahu bahwa sang guru seorang rasionalis tulen, pemuja realitas, bahkan dia dikenal sebagai dokter yang konsekuen menganut paham atheisme.
Sang murid, Horace setelah sekian tahun gagal menemukan jawaban, pada suatu pagi mengendap-endap di sekitar gereja tempat gurunya melakukan missa dengan khusyuk. Sekali lagi dia mengintip mencari kepastian, dan ternyata tidak salah lagi, dialah Desplain sang guru yang dikaguminya atas ide-ide yang brilliant di dunia kedokteran dan ilmu bedah. “Bolehkah saya bertanya, Desplain, untuk apa Anda melakukan hal seperti itu? Apakah sembahyang itu penting buat Anda?”
Terjadilah dialog-dialog panjang yang menyampaikan pengakuan dan kejujuran Desplain, bahwa sembahyang yang dilakukannya selama ini diperuntukkan bagi seorang kuli dan pekerja kasar bernama Bourgeat, datang dari perkampungan terpencil di pelosok Prancis, menjadi kuli panggul di Kota Paris, tetapi dia seorang penganut Katolik yang taat. Sewaktu kehidupan Desplain susah, hingga terusir dari rumah kontrakannya selagi mahasiswa dulu, kuli panggul itulah yang membayarkan biaya kontrakannya. Bahkan dia menjamin kehidupan sang mahasiswa hingga menempuh ujian akhir universitas.
Dialah Bourgeat, dengan bermodal gerobak kayu untuk mengangkuti barang-barang bawaan di pusat kota, begitu rela menjadi ayah angkatnya, dengan keyakinan dan penuh optimis mengatakan bahwa, “Kamu sedang mencari ilmu… dunia ini butuh orang-orang berpikir, berilmu, ketimbang aku yang hanya mengandalkan kekuatan tubuhku.”
Sebelum wafatnya, Bourgeat memberinya wasiat agar dia dikuburkan secara layak, serta diberkati doa-doa dari anak angkatnya, karena memang dia tidak lagi memiliki famili dan sanak-saudara. Desplain, sang anak angkat yang sewaktu mahasiswa tidak sanggup membeli buku, bahkan terusir dari kamar kontarakannya, kini telah menjadi seorang ahli bedah terkenal, pakar kedokteran yang kaya-raya di Paris, tetapi dia dikenal pula sebagai penganut paham atheisme yang konsekuen.
“Seorang kuli yang soleh dan rajin sembahyang itu, barangkali dia menyadari bahwa aku mempunyai panggilan untuk membantu dan menolong orang banyak. Bahkan cita-cita hidupnya untuk membeli gerobak berkuda guna menganguti air, dengan rela dikorbankannya demi untuk membiayai ujian akhirku sebagai calon dokter bedah. Begitulah sahabatku, aku dikenal sebagai seorang atheis, tetapi ketika menghadapi kematian Bourgeat, aku yakin bahwa dia memiliki iman dari hati yang murni. Meskipun dia seorang penganut Katolik yang taat, sedikit pun dia tidak pernah mempersoalkan apakah aku bertuhan atau tidak. Dia ikhlas menolong aku sebagai manusia yang membutuhkan, tetapi dia tak pernah mempersoalkan apa agamaku, bahkan paham apa yang ada di pikiranku.”
Sang penulis cerpen (Honore de Balzac) sangat hati-hati menyimpulkan di akhir cerita, bahwa Horace yang setia mendampingi Desplain gurunya hingga akhir hayat, tidak serta-merta mengatakan bahwa sang guru itu meninggal sebagai seorang atheis. Sama halnya dengan cerpen garapan penulis muda Banten, Hafis Azhari, berjudul “Banjir di Masjid Banten” yang secara eksplisit membedakan antara fungsi religi (agama formal) dengan nilai-nilai ketaqwaan (humanitas).
Orang yang memahami esensi keimanan dan ketaqwaan, tidak mungkin menilai Desplain secara hitam-putih belaka, apalagi sampai nekat menjulukinya sebagai orang kafir yang sesat. Kisah itu dapat disandingkan dengan peristiwa seorang pelacur yang terangkat ke pintu surga berkat menolong seekor anjing buluk yang nyaris mati karena kehausan. Dengan terompahnya dia menimba air sedikit demi sedikit, untuk diminumkannya kepada makhluk Allah yang – bagi kebanyakan orang – dianggap tak berharga itu.
Dan siapa yang berani menyangsikan peran dan dakwah seorang kuli panggul seperti Bourgeat, yang mengangkat nasib seorang mahasiswa dari rawa-rawa keterpurukan, kemudian diambilnya sebagai anak angkat karena ia memahami tugas dan panggilannya sebagai intelektual, pakar kedokteran yang kelak mendidik dan menginspirasi banyak orang. Manusia tidak ada yang berhak mengklaim dirinya tahu tentang kehidupan di masa yang akan datang, apalagi sampai gegabah memonopoli kehidupan akhirat, menuduh ekstrim kiri, ekstrim kanan, bahkan ekstrim tengah dan seterusnya.
Dengan demikian bukankah orang yang suka main tuduh itu telah merampas hak-hak Allah, karena Dia Yang Maha Suci, dan hanya Dia Yang Maha Tahu segalanya. Sedangkan persoalan iman yang hakiki bukanlah pada apa yang diucapkan lewat mulut, tetapi apa yang ada di dalam kalbu, serta dibenarkan oleh tingkah laku yang arif dan penuh keikhlasan. ***

Indonesia dan Sastra Timur Tengah

Oleh Irawaty Nusa – Peneliti historical memory untuk Indonesia.
 
“Tema paling mendasar dalam penggambaran sastra dunia, termasuk sastra Islam maupun Kristen, adalah persentuhan abadi antara agama formal (religi) dengan nilai-nilai kemanusiaan (religiusitas).”
 
Memang sulit dipungkiri bahwa nilai-nilai kesusastraan Indonesia – jika mau disebut universal – tak mungkin melepaskan diri dari kualitas dan kebesaran sastra Timur Tengah yang meneropong tradisi kehidupan mayoritas muslim dengan segala lika-likunya. Beberapa peraih nobel sastra dari Timur Tengah, seperti Najib Mahfudz dan Orhan Pamuk mengungkap problem yang sama, misalnya persinggungan antara hukum adat, agama dan perikemanusiaan seperti yang ditafsir manusia masakini yang terus belajar dari pengalaman historis sekian puluh abad ikhtiar manusia membudayakan diri.
Sama halnya bila kita mengkaji sastra Islam modern dari negeri Iran, seperti Reza Baraheni yang karya-karyanya selalu dianggap “musuh” oleh Shah Iran. Sedangkan Fadila Marabet (Aljazair) tulisan-tulisannya dalam bentuk reportase jurnalistik, namun berdaya imajinasi yang tidak kalah dengan bentuk sastra modern. Bahkan menurut Ignazio Silone, semakin meningkat ke abad transformasi sosial, perbedaan novel dan esai hanyalah soal teknis pengungkapan semata. Muncullah kemudian istilah “novel esaistik”, bahwa setiap karya sastra tidak membatasi diri dalam penceritaan suatu riwayat yang dikarang, tetapi sekaligus mengartikan realitas kehidupan, menilainya, serta menyoroti kebudayaan dan kelembagaan, membandingkan citra dunia dengan tetap memanfaatkan simbol-simbol maupun alegori-alegori.
Salah satu cerpen terkenal dari pengarang Arab berjudul “Betlehem” yang apabila diindonesiakan menjadi “Rumah Daging”. Cerpen karya Yussef Idriss ini memanfaatkan simbol-simbol yang halus tetapi tajam, suatu protes terhadap kelembagaan agama tetapi dibalut dengan humor yang satir dan menghanyutkan. Bila membandingkan dengan cerpen-cerpen Najib Mahfudz (peraih nobel sastra 1988), kita dapat memahami betapa kehebatan sastra Arab memiliki kemampuan bercerita yang sudah mendarah-daging, sebagai bangsa padang pasir yang terlatih di sekeliling api unggun di malam Arabia penuh bertaburan bintang-bintang.
Rumah Daging menceritakan kisah empat wanita, seorang janda bersama tiga anak gadisnya yang sudah berumur, dan mestinya sudah saling menikah. Tetapi fakta bicara lain, ketiga anak gadis itu tidak ada yang cantik, tak pernah ada lelaki yang tertarik apalagi melamar. Keluarga itu miskin melarat. Mereka hanya bisa menunggu dan menunggu, namun tak pernah ada jawaban. Kesunyian eksistensial dari sosok-sosok perempuan yang tak laku, sampai akhirnya keluarga itu mengenal seorang lelaki tampan, Qari yang suka melafalkan ayat-ayat Quran, tetapi buta.
Ketiga gadis itu mengusulkan agar ibunya menikah dengan sang Qari, perjaka muda yang berkumis menarik itu. Sang ibu menyetujui usulan itu, dan rupanya si perjaka buta pun sudah lama mengharap-harap adanya jodoh baginya. Pucuk dicinta ulam tiba. Maka datanglah waktunya, untuk pertama kali selama sekian tahun menanti, di tengah keluarga itu mulai terdengar adanya gelak-tawa di sebuah kamar gelap, meskipun pada perjalanannya seperti inilah akibatnya.
Lama kelamaan sang Ibu menyadari sikapnya yang egois, di tengah anak-anak gadisnya yang tak bisa tersenyum, padahal sejak mereka kecil sang Ibu dengan sayangnya menyuapi roti ke mulut mereka, kadang-kadang dia merelakan dirinya kelaparan, yang penting anak-anaknya merasa kenyang. Tetapi bagaimana dengan kali ini, apakah dia tega membiarkan anak-anak tercintanya “kelaparan” secara biologis, bahkan tak pernah mengenal apa itu yang disebut “nikmatnya seks”?
“Makanannya haram, tetapi lapar jauh lebih berdosa.” Bergelutlah antara konflik adat, agama dan perikemanusiaan di situ, meskipun dengan risiko yang harus dihadapinya, Youssef Idriss harus memenangkan nilai-nilai kemanusiaan. Maka terjadilah pada malam yang sunyi itu, ketika sang Ibu meminjamkan cincin kawinnya kepada si Sulung, sampai kemudian dia pun meminjamkan suaminya yang buta, yang hanya dapat meraba jari-jari bercincin sebagai tanda. Begitulah secara bergantian, pada malam berikutnya dia pinjamkan pula kepada si Tengah dan si Bungsu, dan setelah lampu minyak dipadamkan maka kelaparan pun dipuaskan untuk anak-anaknya satu persatu.
Bila Youssef Idriss tidak sanggup melontarkan pertanyaan yang bersifat esaistik, dengan balutan filsafat dan religiusitas tinggi, kisah-kisah macam itu bisa merosot ke dalam cerita erotis atau lelucon murah belaka. Sebab si Qari tentu merasakan adanya permainan cincin, dan tiapkali dia meraba jari-jari itu tentu berbeda-beda, bahkan dengusan nafas mereka pun berbeda-beda pula. Tapi bukan di sini titik persoalannya. Si Pengarang ingin melontarkan gugatan yang bersifat filosofis, di tengah manusia menghadapi krisis eksistensial, dalam keadaan terjepit, kelaparan, tetapi hidup harus terus dijalani. Pada saat itu akan sulit baginya mendapatkan nasehat atau petuah, karena mereka sendirilah yang mengalaminya secara konkret, khas, tidak berlaku umum tetapi mereka sendirilah yang bertanggungjawab di hadapan Tuhan mereka.
Dalam konteks ini si Qari yang buta pun pada dasarnya merupakan kiasan, buta secara spiritual, atau karena sikon kemiskinan yang tidak memungkinkan bagi kalangan awam sanggup menangkap pewartaan yang diajarkan dalam teks-teks agama. Mana mungkin orang awam mampu menangkap sinyal danmassage dari firman Tuhan yang tersampaikan melalui pesan-pesan kenabian. Sedangkan bagi mereka yang tidak paham, atau justru mereka tidak tahu sama sekali bahwa suatu perbuatan itu boleh dilakukan ataukah terlarang. Bukankah yang dituju oleh dunia buku dan kitab-kitab agama (termasuk sastra) adalah bagi mereka yang mampu memahaminya, serta punya waktu dan suasana kondusif untuk menyerap ilmu, lalu mengamalkannya.
Begitupun ketika kita menghayati karya-karya Ahmad Tohari, Kuntowijoyo maupun Hafis Azhari, tentu dibutuhkan masa perenungan dan pengendapan dalam otak kepala kita, sampai kemudian tersingkap adanya massage yang disampaikan secara mendalam, dan bukan semata pesan-pesan yang wadak semata.
Dalam dunia sastra, akan selalu muncul pertanyaan yang menyangsikan kemampuan manusia memilih teks-teks ajaran agama daripada perikemanusiaan, pada saat ajaran itu menuntut mereka agar selalu taat dan tunduk tanpa reserve, sementara seorang penganut agama tidak pernah diarahkan menjadi cerdas dan dewasa? Di sinilah dakwah melalui karya sastra sangat berperan, betapa debat-debat kusir tentang khilafiyah maupun furu’iyah, tidak pernah menembus wilayah esoterik yang merupakan inti dan esensi iman yang sebenarnya. Kadang-kadang kita lupa bermuhasabah, lantas mengkultuskan diri bahwa hanya kitalah yang tergolong Aswaja (ahlussunnah wal-jama’ah), sedangkan pihak lain dituduh sebagai Wahabi, Ahmadiyah, Persis dan seterusnya. Tuduhan semacam ini – bila mengabaiakan nilai humanitas – akan menjebak kita pada kekerdilan berpikir yang akan sulit menyibak tabir dan kabut yang telah kita ciptakan sendiri.
Marilah kita menembus kabut yang mempersempit ruang-gerak kita dalam menciptakan perubahan dan pembaharuan Indonesia, demi menyongsong hari esok yang lebih terbuka dan berwawasan luas, bahwa nilai-nilai kebaikan yang kita tanam, pasti akan kembali pada diri kita sendiri, dan tak mungkin tertukar kepada pihak lain. (*)