February 10th, 2013 @ // No Comments

Wasis Darmadi – Penyiar Radio Pop FM

Teman Reporter dari Banyumas TV BBM ke saya; hari ini Ahmad Tohari jadi Pembicara di Acara Dialog Pemuda Menyambut Pemilukada Banyumas di Gedung Korpri. Teman saya itu tahu saya terobsesi untuk bertemu dengan Ahmad Tohari. Oke! Kali ini saya tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan Ahmad Tohari!

Sebenarnya tidak susah untuk bertemu dengan Ahmad Tohari, Budayawan, Orang Tua Kandung Srintil Sang Penari Ronggeng Dukuh Paruk. Saya kerja di salah satu media di Purwokerto dan Ahmad Tohari tingggal di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas. Tidak sampai sejam untuk sampai ke rumahnya. Yang jadi masalah, saya sibuk, Pak Ahmad Tohari lebih sibuk lagi! Belum tentu saya ke rumah Pak Tohari beliau ada di rumah.

Bahkan Pak Tohari sudah di depan mata saya pun belum tentu bertemu. Beneran. Saya sudah meliput acara di mana Pak Tohari hadir, tapi kesempatan untuk bertemu belum juga diijinkan Tuhan. Pertama waktu Pak Tohari diundang di peletakan batu pertama salah satu Mall di Purwokerto, lalu saat Pak Tohari jadi Pembicara yang diselenggarakan MPR RI di Hotel Horison, dan terakhir saat Pak Tohari jadi pembicara di Seminar Bahasa Banyumas.

Tapi saya gagal menemui Pak Ahmad Tohari, macam macamlah penyebabnya. Karena Pak Ahmad Tohari meninggalkan tempat acara tanpa sepengetahuan saya, atau acara terlalu lama hingga saya gantian yang terpaksa harus meninggalkan acara karena harus liputan di tempat lain.

Tapi kali ini TIDAK! Saya HARUS bertemu dengan Pak Ahmad Tohari. Saya sudah lama mengidolakan beliau. Saya sudah sejak SMP membaca karya-karyanya. Ronggeng Dukuh Paruk dan Triloginya. Bekisar Merah. Kumpulan Cerpen Senyum Karyamin. Saya juga menonton film SANG PENARI. Sampai berkali-kali, malah.

Saya bagai terbang menuju ke tempat acara. Tidak lupa saya bawa buku SENYUM KARYAMIN untuk dibubuhi tanda tangannya. Saya bersabar untuk mengikuti acara dialog yang diselenggarakan Mahasiswa STAIN Purwokerto.

Begitu acara selesai saya dengan sok akrab mendekati Pak Ahmad Tohari yang masih duduk di Mimbar. Saya menyalaminya, lalu menyodorkan buku Senyum Karyamin meminta tanda tangan, Pak Ahmad Tohari menyambut ramah. Sangat ramah malah. Setelah selesai membubuhkan tanda tangan di buku saya dan juga beberapa mahasiswi STAIN, saya meminta foto bersama.

“Wah, kayak artis saja minta foto-foto….”  itu komentar Pak Ahmad Tohari.

Selesai foto-foto saya tetap mengikuti Pak Ahmad Tohari keluar dari ruangan. Nah, saat saya bertanya begini; ’saya penyiar dan reporter radio di Radio Pop yang siarannya gaya ngapak-ngapak Banyumas….’ tidak saya duga tiba-tiba Pak Ahmad Tohari menghentikan langkahnya.

“Saya tidak suka dengan sebutan NGAPAK-NGAPAK buat istilah Bahasa Banyumas. Itu penghinaan terhadap Bahasa Banyumas. Karena apa? Kata NGAPAK-NGAPAK itu memang seloroh buat orang Jakarta atau luar daerah yang bermaksud untuk mengolok-ngolok bahasa kita yang didengarnya kasar….”

Saya manggut-manggut saja. Antara tidak enak mengatakan kata ‘ngapak-ngapak’ dan membuat Pak Ahmad Tohari tiba-tiba bereaksi, juga antara tidak menyangka kata-kata yang keluar bermaksud untuk membuka percakapan direspon Pak Ahmad Tohari.

Tidak hanya ketersinggungan soal kata ‘NGAPAK-NGAPAK’ tapi juga soal Bahasa Banyumas yang setiap dilontarkan oleh komedian, artis, penyiar di Ibukota jadi bahan ketawaan. Jadi bahan untuk memancing tawa malah.

Lalu sebelum sampai mobil Pak Ahmad Tohari bicara soal Film Ronggeng Dukuh Paruk yang diubah judulnya jadi SANG PENARI. Padahal pada era 80-an buku Ronggeng Dukuh Paruk pernah difilmkan dengan Ray Sahetapy jadi Rasus saat itu dan Eni Betrix jadi Srintil, tapi Pak Ahmad Tohari kecewa dengan film pertama itu….

“Kalau SANG PENARI? Yang beda banget dengan bukunya?” tanya saya.

Pak Ahmad Tohari mengacungkan jempol lalu buru-buru masuk mobil karena sudah ditunggu untuk Rapat Redaksi Majalah ANCHAS, di Majalah Bulanan berbahasa Banyumas itu Pak Ahmad Tohari adalah Kepala Redaksinya.

Sumber: artikel di Kompasiana.