Site Overlay

Podium Milik Siapa?

Kebebasan berpendapat memang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 kalau tidak salah. Salah satu berpendapat adalah dengan menggunakan media, baik media cetak maupun media online.

Meski kebebasan berpendapat (melalui media) telah diatur sejak dahulu, nyatanya kebebasan itu telah direnggut pada zaman orde baru. Ya tidak usah kita bahas bagaimana keadaan media pada waktu zaman orde baru tersebut. Nyaris tidak ada namanya “kebebasan”.

1998, semester awal tahun itu mulai menunjukkan tanda-tanda runtuhnya “dinasti” Orde Baru tersebut. Tepat pada bulan Mei 1998 Orde Baru benar-benar runtuh ditandai dengan mundurnya Soeharto dari jabatannya presiden yang sudah diembannya selama lebih dari 30 tahun. Akhirnya Media pun ikut merasakan kemerdekaan yang benar-benar. Tidak ada lagi pembatasan opini yang mengkritik pemerintah, hampir tidak ada lagi batasan rakyat Indonedia memperoleh Informasi.

Kebebasan mengemukakan pendapat akhirnya benar-benar kita dapatkan. Bahkan semenjak merebaknya Sosial Media seolah-olah setiap orang bisa mendapatkan “mimbar” untuk mengemukakan opini. Entah itu dari kalangan akademisi, aktifis, tukang ronda, atau malah Ibu-ibu rumah tangga mempunyai hak yang sama dalam mengemukakan pendapat. Tidak lagi memandang “derajat” akademisi, yang kita butuhkan hanyalah sebuah email dan sedikit ruang di kepala untuk mengingat password log in kita.

Semua kritis, dalam waktu singkat semua bisa menjadi narasumber. yah, itu tidak salah. Bukankah mengeluarkan pendapat itu adalah hak masing-masing individu. Akibatnya muncul golongan orang-orang “cendekiawan dadakan” yang pendapatnya bisa dibilang ngawur. ironisnya, justru cendekiawan yang telah merasakan “disiplin ilmu” justru kurang begitu aktif di sosial media. Kurang Kerjaan menurut mereka.

Yang lebih parah, kita selalu menjadikan internet atau sosmed sebagai sumber rujukan. Sebenarnya bukan alasan, sebab saat ini internet memang berada dalam genggaman atau paling tidak ada di salah satu saku pakaian kita. Daripada harus pergi ke perpustakaan yang jauh, belum lagi harus mencari sebuah buku di puluhan rak buku yang mungkin sekarang berdebu. Malas.

Sebenarnya internet juga tidak salah, banyak sekali sumber ilmu yang memang benar-benar kredibel tapi tidak semua orang bisa mengaksesnya. Kalaupun bisa, agak ribet memang, Misalnya search engine google scholar. Padahal inti dari internet itu adalah sebuah kepraktisan.

Jadi apa yang harus kita lakukan?

4 thoughts on “Podium Milik Siapa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *