Tragedi Membaca

Cita cita saya ketika masih SD cukup mulya jika dibandingkan dengan teman-teman saya. Polisi, tentara dan dokter bahkan ultraman merupakan cita-cita teman saya ketika masih SD. Lain dengan saya. Saya ingin sekali mempunyai sebuah perpustakaan sendiri. Cita-cita itu timbul secara tiba-tiba karena sekolahan saya waktu itu memang tidak ada perpustakan. Seingat saya. Mungkin apabila sekolah saya saat itu belum punya tempat parkir cita-cita saya adalah tukang parkir.

Membaca adalah jendela dunia. Hal itu yang masih saya yakini hingga saat ini. Apapun yang kita baca kita seolah-olah masuk kedunia terselubung di mana pedoman dunia tersebut adalah buku yang sedang kita baca tersebut.

Dengan membaca rincian catatan hutang teman saya saya bisa tahu “dunia perhutangan” dirinya tanpa harus saya tinggal di dunia tersebut.

Membaca status sahabat di dunia maya kita akan masuk kedunia mereka. Apapun dan siapapun penulisnya.

Namun akhir-akhir ini saya jadi tak pernah membaca. Jarang lebih tepatnya. Kecuali membaca table-tabel data yang sangat rumit. Oh makhluk apa yang bisa hidup di dunia tabel data. Saya acungi jempol.

E-book adalah terobosan teralay menurut saya. Bagaimana tidak, kebiasaan membaca kita saat ini kebanyakan terganggu oleh sebuah benda kecil yang bernama gadget itu. Lha ini kok malah menaruh buku kepada pengganggu kita. Lha apa ya dibaca.

Dengan hadirnya e-book juga telah menenggelamkan cita-cita saya, memiliki perpustakaan. Hilang sudah harapan saya untuk punya ribuan tumpukan buku. Perpustakaan agaknya sekarang adalah sebuah akun yang tersinkronisasi dengan ebook kita. Well,itu tidak bisa dipamerkan kan? Atau paling klasik menyimpan menggunakan flashdisk. Yah tetap saja, flashdisk tidak indah ketika disusun, tidak seperti buku.

Foto Bersama Bapak Lukman Hakim

Terima kasih Bapak Lukman Hakim atas pemberian bukunya. Njenengan telah memberi nafas cita-cita saya pak. FYI, Pak Lukman Hakim adalah Walikota Kota Metro tahun 2005-2015.
Terima kasih banyak.

Jangan lupa matikan gadget paling tidak 30 menit untuk mengecas dan membaca buku hehehehe

3 thoughts on “Tragedi Membaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *